Pikiran Yang Matang: Refleksi Diri Lewat Lagu Perunggu
Refleksi mendalam tentang perjuangan melepaskan overthinking, menemukan kedamaian pikiran, dan berdamai dengan dinamika hidup lewat lagu 'Pikiran Yang Matang' karya Perunggu.

Sebuah karya seni sering kali menyimpan sejuta makna dan interpretasi bagi tiap pendengarnya. Setiap orang punya sudut pandang berbeda dalam menangkap pesan implisit, bahasa kiasan, simbol, maupun subjektivitas emosi yang terpancar dari sebuah lagu.
Lewat tulisan ini, aku ingin menuangkan sedikit refleksi pribadi yang terinspirasi dari salah satu lagu yang sering kudenger akhir - akhir ini: “Pikiran Yang Matang” karya grup musik Perunggu. Lirik demi lirik dalam lagu ini, menolongku saat aku beneran overthinking di umur 27 tahun ini.

Overthinking
Apa ya, semua orang ngalamin ga sih ? apa yang namanya,] overthinking itu? Apalagi kaum adam, wkwk. Baru ngomong A, biasanya udah nyiapin plan sampe Z, tapi cuma baru bisa dipendem sendiri. Bener ga si?
Dari sekian banyak hal yang kupikirkan, gak sedikit yang akhirnya berubah jadi beban pikiran yang sangat mengganggu. Overthinking bikin aku jadi sosok yang penuh penyesalan, rasa sakit, dan kebingungan.
Sesuatu, yang awalnya mungkin diluar kendali kita, mejadi ikut kita pikirkan. “Salahku dimana”, “Kalau aja, aku ngelakuin ini”, “Kalau aja, aku tadi gak gitu”, dan sebagainya.
Keadaan itu memaksa otakku memikirkan segala kemungkinan secara bersamaan dalam satu waktu—padahal aku sendiri gak tahu apakah hal-hal itu beneran bakal terjadi atau cuma delusi di kepala semata.
Memikirkan dan mengantisipasi masa depan emang hal yang baik. Tapi kalau dilakukan secara berlebihan, itu cuma bakal mengubah semua hal jadi kecemasan dan rasa terperangkap dalam ketidakpastian.
Lewat tulisan ini, aku ingin mencatat bagaimana aku belajar melepaskan beban penyesalan akibat overthinking, supaya bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih dewasa tanpa terus-menerus menengok ke belakang.
Menyelami Lirik Demi Lirik
Kayak kata orang - orang yang ngepost di IG Reels, atau Facebook. “When you’re happy, you enjoy the music. But when you’re sad, you understand the lyrics.” kinda, similar with that~, jadi kalau kita lagi seneng, kita enjoy the flow, pas lagi sedih, cari lagu yang relate untuk membantu kita mempelajari emosi yang terjadi pada diri kita sendiri. gitu ga sih dikalian ? wkwkwk.
Oke, masuk ke liriknya (sesuai kepercayaan aing tentunya) wkwk.
Dinding yang mulai berjamur
Setengah dua dan kubutuh tidur
Isi kepalaku tak lebih penuh
Dari TransJakarta kemarin subuh
Dari tubuh dan pikiran yang mulai kelelahan akibat dipaksa kerja keras dalam kondisi yang buruk, udah tahu capek, tapi malam malah begadang, kehilangan waktu istirahat di luar jam kerja.
Begitu banyak beban pikiran yang menumpuk, yang harusnya engga kamu pikirin, tapi kepikiran sendiri.
Mulai hari ini saja
Berhenti menyaksikan polahmu
Tak apa jika semuanya terlewat
Tak pernah berdampak penting bagiku
Yaa untuk yang ini, sebenernyaa, kalian semua gaperlu di suapin ga si? Paham lahh maksud aing apa, wkwk. Ya, untuk share bagaimana aku mendalami musik dari kacamataku, juga sebagai perantara produktif aja, menunangkan semua overthinkingku ke tulisan, jadi ya kutulis aja ya, hal ini, wkwkwk.
Ya intinya, pada hal yang berdampak buat aku kepenuhan mikir, gabisa berenti, hal yang ngeganggu kesehatan mentalku—mulai hari ini—aku belajar untuk melepaskannya. Apakah aku sanggup? Hehehe, sayangnya meski begini-begini, aku bodoh akan hal itu. Tak apa, apakah aku beneran bisa merelakan semuanya? Aku belum tahu pasti, tapi aku bakal terus belajar melepaskan hal-hal yang di luar kendaliku. Ya, itulah kenapa alasanku sekolah lagi, mungkin biar jadi pinter, ga goblok perihal begini, atau mudah dibodohi, ahahaha. Gapapalah, masaalah begini aselii aku remidii, bisa ga sih, aku percaya, kamu percaya, kita sama-sama jaga diri kita, untuk sebentarrr aja.
Lirik ini, juga apa ya, wake-up call, ataupun hal yang ngebantu aku selesai masa denial-ku. Gak apa-apa kalau ada kesempatan yang berlalu. Bukankah semua yang terjadi pada akhirnya membawa kebaikan buat kita?
Dan kalau sesuatu gak terjadi, bukankah itu artinya ada hal yang jauh lebih baik yang sedang disiapkan? Pada akhirnya, apapun yang ditakdirkan untuk kita, pasti bagaimana caranya akan kembali menemukan jalannya, balik kepada kita bukan?
Hari ini tak lebih seru
Hari ini tak banyak terganggu
Hari ini oh biasa saja
Makin nyaman jauh dari drama
Hari, yang biasanya aku habiskan, dan terbiasa dengan doi, sekarang udah balik jadi hari-hari yang biasa saja justru terasa begitu menenangkan, a.k.a. jadi balik kesepian, akawoakwo (ngetawain ketololan diri sendiri). Ada rasa tenang yang hadir ketika aku belajar menjauh dari drama dan merelakan hal-hal yang saat ini, mungkin belum bukan ditujukan untukku.
Hei, aku tak perlu kenal dirimu
Atau membaca tulisanmu
Kuharap semua tetap begitu
Banyak yang butuhkan perhatianku dan
Hei, kau pernah sita semua waktuku
Dan tak kembalikan satu pun
Hidupmu biar kau yang tahu
Banyak yang butuhkan perhatianku
Kenapa dulu aku harus jatuh ke dalam lubang pikiran yang begitu dalam? Kenapa harus cemas berlebihan pada hal yang belum tentu terjadi? Gaperlu kujelasin secaara gamblang, kalian juga bisalah ya, menelaah yang kira - kira terjadi. Inti sari mas-mas perunggu, itu muncul banget disini.
Orang yang gapernah menang, jangankan juara kedua, dia kalah, dan jadi yang ketiga. Itu, yang aku fahami dari grup musik ini. Ahahaha.
Hal yang aku invest banget waktu disana, effort disana (tapi sebenernya gamasalah sih, la wong aku juga suka pas ngalamin butterfly era itu, wkwkw) ga nyesel juga, cuma biar keliatan keren aja kali ya, tapi biar apa, sama-sama ga ngembaliin yang udah terjadi ga si ? Mau elu ngasih seluruh dunia elu, nyanggupin semua kemauan orang itu, kalau dari awal cuma juara ketiga, opsi terakhir, semua penawaranmu, ga ada harganya bree, wkwkw. Tetep aja kalah ama pilihannya dia. Meski, sama - sama juara, musuh elu juara kedua (tentu juara pertama dia sendiri), dan elu juara ketiga, opsi terakhirnya bree. Wkwkw, mungkin ini yang dirasaain bang maul, atau personil lain Perunggu kali yak, pas nyari nama band ini wkwkw.
Jadi melebar kann, maapin. Balik lagi kelagu, kadang stress yang kualamin saat mikir keras, mbateg, itu sering kali berdampak ke orang-orang terdekatku, bikin mereka merasa cemas dan bingung. Saat aku bisa berdamai dan melepaskan overthinking yang aku alamin, aku bisa hadir jadi sosok yang lebih baik buat orang-orang di sekitarku. Masih banyak orang-orang tersayang dan hal nyata yang beneran membutuhkan perhatian dan kasih sayangku.
Menuai di Laut yang Tenang
Di laut yang tenang
Dan pikiran yang matang
Dan semua umpatan yang kuredam
Kan kutuai semua yang kutanam
Setelah bisa ikhlas dengan hal yang aku alamin. Rasanya, bisa adem aja sih. Bukan sepenuhnya ikhlas atau melepas aja, aku kirapun, semua orang akan tetap ingat, cuma memilih mendem ini jauh, biar ga selalu dipikirin aja ga si ? dan bersyukur dengan proses yang berjalan sampai hari ini.
Aku paham bahwa ketika sesuatu gak berjalan sesuai rencanaku, bukan berarti aku gak layak, melainkan karena ada takdir yang lebih baik yang sedang disiapkan. Atau mungkin, memang aku belum layak aja, sedang dijauhkan, dibuat berpisah, untuk dipantaskan, dan diketemukan kembali saat aku menjadi sosok yang pantas buat orang tersebut. Ya karena, ini Abadi (wkwkwkw, katanya udah beres bos denialnya, sstt diem kalinann, wkwk).
Di laut yang tenang dan pikiran yang matang, bagaimana kita merespons ujian hidup bakal menentukan apa yang kita tuai. Yaa sekarang, balik lagi aja, fokus jadi orang baik, buat diri sendiri, dan orang sekitar, dan kelak semua yang kita tanam, kita juga yang bakal menuai hasilnya.
Yahh, last but not least. Aku banyak-banyak terimakasih pada blog ini, sama siapapun yang ngebaca ini. Terima kasih banyak untuk meluangkan waktu membaca sampah, dump, pikiran aku, juga untuk semua teman dan orang-orang tersayang yang selalu hadir dan jadi bagian dari perjalananku. Aku sangat bersyukur memiliki kalian semua.
Komentar
Komentar tidak tersedia untuk halaman ini. Panduan komentar