Hai, aku Fajar!
Aku tipe orang ENTP yang gak pernah kehabisan rasa penasaran. Rasa penasaran itu yang selalu membawa aku dari satu petualangan ke petualangan lain—mulai dari ngoprek baris kode sampai mendaki puncak gunung. Web ini lahir dari niat sederhana: mengikat setiap serpihan cerita hidupku dalam bentuk tulisan.
Siapa Aku? Jack of All Trades, Master of None?
Mungkin itu deskripsi yang paling pas. Aku gampang banget tertarik sama banyak hal: mulai dari merakit aquascape, naik gunung, ngoprek motor, desain grafis, servis komputer, benerin HP, AC, barang elektronik, sampai nulis kode. Perjalananku di dunia IT sebenarnya dimulai dari SMK jurusan Sistem Informasi, tapi pas kuliah takdir malah membawaku ke jurusan Manajemen Bisnis Syariah. Tapi ya dasar anaknya penasaran, pas kuliah aku sempat bikin kedai kopi kecil-kecilan, buka jasa olah data, sampai ngelola Burjo Mahasiswa "Kon Ngopi". Buatku, tiap pengalaman itu kayak potongan puzzle yang nempa diriku yang sekarang.
Titik balik besarnya datang di tahun 2024, pas aku memutuskan merantau jadi ekspatriat di Malaysia, kerja di bidang manajemen risiko perusahaan internasional. Di sini aku ketemu temen-temen dari Jepang, Korea, Filipina, dan berbagai negara lain—yang malah ngebuka semangatku lagi buat belajar bahasa Jepang dan kanji. Dulu aku bukan tipe orang yang suka jalan-jalan, tapi sekarang tiap ada kesempatan mengeksplor tempat baru selalu kusambut dengan seneng hati buat didokumentasiin di web ini.
Prinsip hidup yang terus kujaga sampai sekarang tuh filosofi Jawa *eling lan waspodo*—tetap sadar dan eling sama tujuan awal di tengah banyaknya distraksi dunia. Buatku, ini jangkar buat mengejar mimpi-mimpi besar: menaklukkan puncak gunung dunia, nonton anime tanpa subtitle, dan kelak di masa tua, bisa pulang ke desa buat jadi guru ngaji yang ngebawa manfaat dan harapan buat adik-adik penerus bangsa. Selamat datang, yuk bertualang bareng lewat tulisan!
Dibalik nama Ygnizem & Kamajaya?
Ygnizem (atau Egnigem) itu Boss Monster di Ragnarok Online yang ikonik banget zaman aku SD dulu. Waktu itu ngalahin dia butuh satu tim warnet yang solid gara-gara susahnya bukan main. Desain karakternya yang unik dan kenangan berburu kartunya bikin nama ini nempel terus sampai sekarang. Kalau nama Kama atau Kamajaya, asalnya simpel: adikku sering manggil "Masma" (Mas + Ma dari nama belakangku), terus berubah jadi "Kakma", lalu makin simpel jadi "Kama". Tapi nama ini berkembang jadi filosofi tersendiri. Di pewayangan, Kamajaya itu Dewa Cinta yang penuh kasih sayang. Aku suka banget filosofi itu. Jadi kalau kamu ngelihat avatar bernama Kama, itu sisi lain dari diriku.
Tema web ini karakter wayang siapa?
Itu Rahwana, atau Dasamuka (si muka sepuluh). Dia antagonis utama di cerita Ramayana. Aku suka karakternya setelah nonton pementasan teater online "Rahwana Putih" karya Sujiwo Tejo pas zaman kuliah. Rahwana melambangkan bentuk cinta yang murni, jujur, dan setia sampai akhir. Punya sepuluh kepala, tapi isi pikirannya cuma satu wanita: Shinta.
Tokoh Berpengaruh

Nabi Muhammad SAW
Suri Teladan UtamaSuri teladan utama dalam setiap jengkal kehidupan—akhlak, kepemimpinan, kerendahan hati, dan kasih sayang kepada sesama. Pedoman hidup paling mendasar.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Budayawan & Pemikir IslamBudayawan, penyair, intelektual Islam, dan pengasuh gerakan kebudayaan Maiyah. Pemikirannya yang mendalam, inklusif, dan humanis selalu membuka cara pandang baru dalam memandang agama, budaya, dan kemanusiaan.

Sujiwo Tejo
Seniman & BudayawanSeniman multi-talenta, dalang, penulis, dan "Presiden Jancukers". Sosok yang mengajarkan kejujuran rasa, keberanian berpikir merdeka, serta keindahan cinta yang jujur dan apa adanya. Pementasannya 'Rahwana Putih' memberi pengaruh besar pada cara pandangku tentang cinta dan kehidupan.
Musik / Band Favorit (For Now)
Inilah para musisi dan band yang menemani playlist-ku dari Juli sampai sekarang—dan akan terus kuupdate mengikuti mood yang berubah-ubah.
Bicara soal musik yang paling sering menemani hari-hariku saat ini, jawabannya jatuh pada Perunggu. Band rock pekerja kantor asal Jakarta ini punya tempat tersendiri di playlist-ku. Lagu-lagu mereka terasa seperti refleksi perjalanan orang dewasa muda yang berjuang di tengah dinamika hidup, pekerjaan, dan ekspektasi—lirik-lirik di album mereka, hingga trek seperti Kalibata - 2012, 33x, Berhasil, Gemilang, Ini Abadi terasa begitu riil dan dekat dengan keseharian.
Tapi lebih dari sekadar musiknya yang enak, ada filosofi nama yang bikin aku merasa begitu terhubung dengan mereka: perunggu. Medali perunggu itu tempat ketiga—bukan juara pertama yang disorot semua orang. Dan di situ letak kecocokannya: "Udah biasa nggak menang, juara ketiga, cocok untuk aku yang rasanya selalu jadi yang terakhir. Ahahaha." Di tengah dunia yang sibuk menuntut jadi yang nomor satu, mendengar Perunggu terasa seperti tempat merayakan penerimaan diri, kejujuran pada kenyataan, dan tetap melangkah dengan pikiran yang matang.
Baca juga: Refleksi lagu ini dari sudut pandang aing di sini.
Ada lagu-lagu yang nggak pernah menua, dan buatku, Menunggumu dari Peterpan adalah salah satunya. Band legendaris asal Bandung ini pernah membentuk satu era penuh musik Indonesia, dan kolaborasi mereka dengan mendiang Chrisye di album Sebuah Nama Sebuah Cerita sampai hari ini belum ada tandingannya. Sejak Juli, lagu ini—bersama Mimpi yang Sempurna yang tak lekang oleh waktu—pelan-pelan kembali rutin menemani hariku: lembut, sabar, dan penuh rindu.
Yang bikin aku selalu kembali adalah pertanyaan di jantung lagunya: "Harus berapa lama aku menunggumu?" Suara Ariel yang lembut berpadu dengan warna vokal Chrisye yang abadi, mengubah penantian menjadi sesuatu yang indah, bukan menyakitkan. Dan saat mood sedang naik, Mimpi yang Sempurna menyambung dengan refrain-nya yang membakar semangat—pengingat bahwa beberapa hal, beberapa orang, dan beberapa mimpi memang layak diperjuangkan.
Kalau ada soundtrack untuk overthinking tengah malam, Colorcode jagonya. Band asal Indonesia ini menulis lirik dalam bahasa Inggris, dan lagu-lagu mereka begitu jujur soal penyesalan, kehilangan, dan perasaan yang tak pernah benar-benar selesai. Dua trek yang paling sering kuputar akhir-akhir ini: Merra dari EP Pain That I Buried Inside, dan Sway dari Constant Change yang menampilkan suara menghantui Sekar Agny.
Merra adalah permintaan maaf yang diukir menjadi lagu—"I'm sorry for everything I did five years ago" terasa seperti pengakuan yang tak pernah sempat diucapkan. Sway membawa rasa yang sama: rindu yang begitu awet, sampai ruangan pun seakan ikut mengingat sosoknya. Kedua lagu ini mengingatkanku bahwa tidak apa-apa duduk sejenak dengan perasaan yang belum selesai—kadang musik memang mengatakan hal yang tidak bisa kita ucapkan.
Dan tentu saja, playlist-ku tidak akan lengkap tanpa Taylor Swift. Ada lima lagunya yang paling menemaniku beberapa bulan terakhir: Back to December dan Enchanted dari album Speak Now, plus Love Story, You Belong with Me, dan The Way I Loved You dari Fearless. Beda era, beda suasana—tapi kelimanya rutin kuputar sejak Juli.
Masing-masing membawa warna rasa yang berbeda: Back to December adalah lagu Taylor yang langka—bukan tuduhan, melainkan permintaan maaf—Enchanted mengabadikan kilau pertemuan pertama yang bikin terpesona, Love Story tetap jadi anthem dongeng yang semua orang hafal, You Belong with Me adalah lagu wajib para pemendam rasa, dan The Way I Loved You menangkap rindu pada cinta yang dulu lebih liar, bukan lebih tenang. Kelimanya sekarang sudah punya lirik sinkron yang berjalan, jadi silakan putar sambil karaokean baris demi baris.
Terakhir, sedikit nostalgia era emo: Secondhand Serenade. Proyek satu-persona dari John Vesely ini mendefinisikan era emo-akustik akhir 2000-an—vokal yang mentah, piano, dan lirik yang terasa seperti surat yang tak pernah berani dikirim. Fall for You adalah anthem patah hati abadi dari masa itu—ditemani juga oleh Your Call, Broken, Maybe, dan Why—dan entah kenapa lagu-lagu ini rasanya masih sama persis, berapa pun tahun yang berlalu.
Yang paling kusuka dari lagu ini adalah kejujurannya: tanpa metafora untuk menutupi sakit, hanya permohonan polos—"because a girl like you is impossible to find". Emo jadul dalam bentuk terbaiknya: dramatis, tulus, dan selalu relevan sampai sekarang. Beberapa fase hidup memang berlalu, tapi ternyata lagu ini bukan salah satunya.
Tentang isi Web ini:
Web ini bakal tak pake buat wadah nulis berbagai hal. Mulai dari cerita perjalanan, sejarah hidup, hobi, dan hal-hal random lainnya buat siapapun yang terdampar di internet dan kebetulan mampir ke sini—baik sengaja maupun nggak sengaja.
The Grid
Terinspirasi oleh Film The Matrix, website ini memiliki Easter Eggs yang dapat diakses melalui kombinasi tombol rahasia.
Type "matrix" anywhere to unlock the Easter Eggs (Desktop - Keyboard - View Only).
Ambisi di 2026
Target yang ingin kuwujudkan tahun ini:
Baca selengkapnya tentang perjalanan 27 tahunku disini →
Tech Stack & Tools
Meskipun latar belakang profesional aku saat ini tidak sepenuhnya di bidang IT, aku tetap antusias dengan perkembangan teknologi. Berikut adalah beberapa tools yang aku kuasai sebagai Jack of All Trades:
Kemudian, aku juga telah membuat berbagai aplikasi dengan yang kukuasai:
Mari Terhubung
Jangan ragu untuk menghubungi jika ingin berkolaborasi, punya pertanyaan, atau sekadar ngobrol tentang teknologi, perjalanan, dan makna hidup.


















