September, 4 bulan lagi ...
Empat bulan tersisa di 2026. Isu jerebu karhutla, perang meme netizen, quotes September, serta refleksi tentang kepalaku yang kebanyakan open tabs dan niat memenjarakan HP.

Hai.
Nggak berasa ya, kita udah menginjak bulan September. Artinya… tinggal tersisa 4 bulan lagi sebelum tahun 2026 ini selesai. Btw, aku nulis post ini 05 September, moga tidak ketinggal relate.
Setiap memasuki September, rasanya selalu ada campuran antara pengen sejenak menarik napas panjang sama kesadaran kalau waktu jalan cepat banget. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, mulai dari keriuhan media sosial, dinamika kehidupan pribadi, urusan pekerjaan, sampai isu lingkungan yang lagi ramai.

Karhutla, Haze (Jerebu) di Malaysia, & Perang Meme Netizen
Kalau kamu lagi tinggal di Malaysia beberapa pekan terakhir ini, salah satu topik paling panas (dan berasap!) jelas soal jerebu alias kabut asap kiriman karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dari Kalimantan, Indonesia.
Sebagai WNI yang sekarang menetap di Malaysia, situasi ini jujur bikin posisiku agak unik sekaligus serba salah hahaha. Di satu sisi, mata pedih dan tenggorokan gatal ngerasain asapnya langsung. Tapi di sisi lain, timeline medsos netizen Malaysia meluapkan kekesalannya lewat berbagai meme sindiran yang cukup menohok buat Indonesia dan pemerintah.



Dilema Perasaan sebagai WNI di Malaysia
Menghadapi serbuan meme sindiran kayak gitu, respons paling realistis sebagai warga Indonesia di rantau ya… elus dada sambil senyum kecut hahaha.
Kita sadar karhutla itu masalah serius yang ngerugiin banyak pihak di kedua negara. Tapi di saat yang sama, komedi hitam “dark joke” dan meme-meme ini emang jadi cara netizen melampiaskan kekesalan love-hate relationship kedua negara secara humoris.



Random SS Septemberku
Di tengah riuhnya berita dan keriuhan internet, aku menyempatkan diri mengumpulkan beberapa quotes dan gambar catatan pribadi yang mewakili apa yang kualami dan kurasakan memasuki bulan ini.







Ngilang Sebentar ke Tengah Hutan
Keriuhan di medsos dan pekatnya jerebu kemarin makin memantapkan niatku buat rehat sejenak. Selama empat hari, aku ikut kamp bareng Greenpeace Malaysia di Perak, persis di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit dan hutan.
Empat hari itu isinya ngumpul bareng warga lokal, trekking, ngelihat kebun sawit yang luasnya nggak masuk akal, dan banyak kegiatan outdoor.
Pas pulang, tubuhku langsung ngirim tagihan:
- Kulit gosong terbakar matahari
- Demam
- Batuk & flu
Paket komplit hahaha. Tapi anehnya, aku emang ngerasa butuh banget momen itu.
Selama empat hari di sana, aku bener-bener terputus dari dunia luar. Nggak ada sinyal, nggak megang HP, nggak ada notifikasi yang muncul terus-terusan. Bahkan di satu momen, aku sempat nyasar sebentar di dalam hutan.
Tapi anehnya, itu jadi salah satu momen paling damai yang kurasain tahun ini. Tanpa layar yang terus minta dilihat, kepalaku akhirnya punya ruang buat bernapas. Punya waktu buat berpikir, berdoa, ngelihat sekeliling, dan sekadar menikmati momen tanpa beban. Ya, serius, puasa dengan teknologi itu penting.
Terdiskoneksi, kadang itu justru cara terbaik buat nemuin jalan terkoneksi kembali ke diri sendiri.
The Brain not braining — zzzz

Jujur belakangan ini banyak banget hal yang lalu-lalang di kepala: pekerjaan, target karier, urusan pribadi, lanjut kuliah, belajar, nulis blog, rencana jalan-jalan, sampai hal-hal konyol yang mestinya nggak perlu dipikirin tapi tetap aja kepikiran.
Rasanya persis kayak browser yang kebanyakan ngebuka tab secara bersamaan. Dan bedanya sama laptop, pikiran kita nggak bisa asal close tab begitu aja tanpa diselesaiin.
Mencerna itu semua ternyata nguras energi mental banget. Aku ngerasa agak overwhelmed, dan sadar kalau aku butuh suasana yang lebih hening.
Bukan karena ada masalah besar. Bukan karena marah sama siapa-siapa. Dan jelas bukan karena mau mutus silaturahmi. Aku cuma butuh waktu buat menjernihkan pikiran, berdoa, dan memilih hal apa yang bener-bener layak dapat perhatianku—satu per satu. Aku tata kembali, satu persatu.
Daily Screentime
Jadi ya, aku memutuskan buat deaktif Sosmed aku lagi untuk sementara waktu.
Aku pengen lebih banyak menghabiskan waktu di dunia nyata:
- Nulis dan bikin catatan pribadi
- Jalan-jalan terus dituangin jadi tulisan di blog
- Belajar hal baru dan olahraga
- Lebih sering keluar rumah menikmati udara segar
- Intinya, ngelakuin hal-hal yang nggak butuh refresh feed tiap lima menit sekali.
Biar niatnya nggak cuma sekadar wacana, baru-baru ini aku beli loker fisik kecil.

Rencananya jelas: HP, tablet, dan perangkat entertaint lainnya bakal dimasukkan ke ‘penjara’ loker kecil itu.
Aturannya sederhana: di luar jam kerja, HP wajib dikunci.
Aku cuma bakal pakaikan HP di pagi hari dan selama jam kantor aja. Begitu jam kerja selesai, HP masuk loker sampai keesokan harinya.
Nggak ada lagi cerita scrolling iseng sebelum tidur, nggak ada lagi buka-buka aplikasi nggak penting, dan nggak ada lagi kalimat jebakan: “ah buka Instagram 5 menit doang deh.” Ujung-ujungnya kan kita tahu sendiri bablasnya gimana hahaha.
Aku pengen merebut kembali malam-malamku. Daripada ngabisin waktu ngelihatin hidup orang lain di layar, mending aku nikmatin dan jalanin hidupku sendiri di dunia nyata.
Tapi tenang, laptop tetap ada di luar kok. Nggak sekalian kembali ke zaman purba juga. Laptop tetap dipake buat nulis, belajar coding, ngebuka blog, dan hal-hal produktif lainnya.
Ini bukan soal anti-teknologi kok. Tapi soal kita yang megang kendali kapan teknologi boleh mengambil perhatian kita.
Nggak tahu bakal berapa lama. Bisa sebentar, bisa juga lebih lama dari perkiraan. Momen ini mungkin bakal jadi story di Instagram ini sebelum balik deactivate akun lagi.
Lihat nanti aja ya. Siapa tahu tahun depan aku balik lagi membawa kejutan baru—atau minimal jadi versi diri yang lebih baik dari yang sekarang.
Lanjut S2 ??? REALLYYYYY ? WAT THE ?
Yaa, kalian ga salah denger. wkwkw. Makluk uniqueness ini memilih melanjutkan S2 kali ini.
Kalian tahu plot twistnya apa ga ? Kayak ditulisanku di post 27 So Far, aku nyebutin bahwa ga ada yang tahu takdir membawamu bukan ? Kemudian, Allah itu menepati janjinya untuk mengabulkan semua doa, ada yang diberikan saat itu juga, ditunda, dan diganti lebih baik. dalam kasusku, aku dulu berdoa, puasa senin kamis, SNMPTN bisa masuk S1 Pendidikan Teknik Informatika di UNY. Eh gagal, sekarang, aku dari S1 Manajemen, nekat lintas jurusan, menolak linier, masuk daftar ke S2 Pendidikan Teknik Elektro dan Informatika UNY cuyy. wkwkwkwk. Yahh, againn, Allah the best planer, Hibahkann bebanmu~
who knows where life will take you is it? Hahahah.
So yes, goods bye guyyss ^_^
Sebelum ada yang ngira aku mau jadi bertapa di goa: tenang, aku nggak berniat hidup mengisolasi diri kok.
Aku tetap pengen tahu perkembangan dunia luar. Cuma bedanya, aku nggak mau seluruh keriuhan dunia itu masuk dan memenuhi kepalaku 24 jam sehari.
Aku udah set sistem AI pribadi yang bakal ngasih rangkuman mingguan tentang berita-berita penting. Jadi hal yang esensial tetap bakal ketahuan, tanpa harus ikutan pusing sama drama-drama sosmed yang nggak penting.
- Kabar penting? Rekan A1.
- Doom-scrolling jam 2 pagi? Jangan sampai.
Kemudian, aku juga masih reachable kok. Tolong jangan merasa canggung atau menganggap kita jadi kayak orang asing ya.
Aku juga masih aktif di WhatsApp, Bluesky, dan Discord. Jadi bukan berarti aku menghilang ditelan bumi ya.
Kalau ada perlu, mau curhat, butuh bantuan, mau berbagi cerita lucu, atau sekadar nanya kabar, tinggal chat aja di WhatsApp.
Mungkin balasanku nggak sesatset biasanya, tapi pasti bakal kubalas kok.
Dan ya, aku juga masih buka draf proyek freelance coding. Kalau yang satu itu mah rezeki, jangan ditolak hahaha.
So, yes, four months left ~
Aku nggak mau ngabisin sisa empat bulan di tahun 2026 ini cuma buat berlari mengejar ketertinggalan di media sosial.
Aku mau pelan-pelan. Lebih banyak nulis, baca, jalan-jalan, belajar, menggerakkan badan, berkreasi, dan tentu saja banyak berdoa.
Nikmatin duduk tenang di suatu tempat tanpa perlu ada dorongan buat memfoto dan mengunggahnya ke story.
Ternyata dunia digital nggak perlu tahu semua hal yang kita lakuin. Dan sebaliknya, kita juga nggak perlu tahu semua keributan yang ada di internet.
Lagian, sisa 4 bulan, kayaknya target IELTS ku yang aku tuang pada refleksi target umur 26 di sini ga kekejar, bahkan, aku belum mulai satupun latihan speaking British-English. Tapi yah, diganti lanjut S2 Teknik, gess. wkwkw.
Jadi kalau belakangan ini aku kelihatan agak tenang dan jarang muncul, jangan khawatir ya. Aku baik-baik saja—cuma lagi menikmati hidup di ruang yang lebih teduh. Mikir banyak hal, ama gimana caranya mengusahakan niat baik ini bisa tercapai dengan baik juga.

Oh God, I wish…
Jika memang aku belum siap untuk menerima kemenangan di akhir tahun ini, nak ancene niki dereng Tahun kulo nggih Gusti, maka minimum jadikanlah aku penyampai kemenangan-Mu.
Biarkan aku menjadi jalan agar kemenangan-Mu sampai kepada orang lain, dan biarkan kisahnya menjadi bagian dari hidupku.
Ibarat rezeki dari jajanan yang kubeli—sesuatu yang sederhana bagiku, tetapi mungkin menjadi jalan rezeki bagi orang lain. Jika Engkau belum menitipkan rezeki itu untukku, jadikan aku perantara agar rezeki-Mu sampai kepada mereka.
Maka jika aku belum mendapatkan kemenangan di akhir tahun ini, setidaknya jadikan aku penyampai kemenangan tersebut. Jadikan aku seseorang yang membawa kabar baik, membuka jalan, membantu seseorang sampai ke garis akhirnya, atau sekadar menjadi bagian kecil dari kisah kemenangan mereka.
Aamiin …
Sampai ketemu lagi. Jangan lupa sesekali jalan keluar dan sentuh itu rumput, hahaha.
Sampai jumpa.
Tulisan Acak
Baca tulisan acak lainnya
Komentar
Memuat komentar…
Bergabung dalam percakapan
Pilih cara Anda ingin berkomentar.
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat.