← Semua artikel

September, Tolong Tenang Sedikit

Setelah empat hari terputus dari dunia di Perak, aku menjauh sejenak dari Instagram, menyimpan gawai, dan memberi ruang untuk hidup yang lebih tenang.

Hai.

Akhir-akhir ini hidup berasa agak gila nggak sih?

Masih ada 4 bulan tersisa di tahun 2026, dan kadang aku ngerasa dunia makin bising dan udah lupa caranya pelan. Semua orang terburu-buru, segalanya nuntut perhatian, tiap medsos pengen interaksi. Isu politik, karhutla yang nggak kelar-kelar, sampai keributan kecil di timeline yang nggak ada habisnya.

Dan ajaibnya, kita dituntut buat bisa ngikutin semua itu sambil tetap harus bugar mengurus hidup kita sendiri.

Jujur? Aku lelah.

Ngilang sebentar ke tengah hutan

Kemarin selama empat hari, aku ikut kamp bareng Greenpeace Malaysia di Perak, persis di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit dan hutan.

Empat hari itu isinya ngumpul bareng warga lokal, trekking, ngelihat kebun sawit yang luasnya nggak masuk akal, dan banyak kegiatan outdoor.

Pas pulang, tubuhku langsung ngirim tagihan:

  • Kulit gosong terbakar matahari
  • Demam
  • Batuk & flu

Paket komplit hahaha. Tapi anehnya, aku emang ngerasa butuh momen itu.

Selama empat hari di sana, aku bener-bener terputus dari dunia luar. Nggak ada sinyal, nggak megang HP, nggak ada notifikasi yang muncul terus-terusan. Bahkan di satu momen, aku sempat nyasar sebentar di dalam hutan.

Tapi anehnya, itu jadi salah satu momen paling damai yang kurasain tahun ini.

Tanpa layar yang terus minta dilihat, kepalaku akhirnya punya ruang buat bernapas. Punya waktu buat berpikir, berdoa, ngelihat sekeliling, dan sekadar menikmati momen tanpa beban.

Menghilang sebentar itu bukan berarti melarikan diri kok. Kadang itu justru cara terbaik buat nemuin jalan pulang ke diri sendiri.

Kepalaku kebanyakan tab yang terbuka

Jujur belakangan ini banyak banget hal yang lalu-lalang di kepala: pekerjaan, target karier, urusan pribadi, belajar, nulis blog, rencana jalan-jalan, sampai hal-hal konyol yang mestinya nggak perlu dipikirin tapi tetap aja kepikiran.

Rasanya persis kayak browser yang kebanyakan ngebuka tab secara bersamaan. Dan bedanya sama laptop, pikiran kita nggak bisa asal close tab begitu aja tanpa diselesaiin.

Mencerna itu semua ternyata nguras energi mental banget. Aku ngerasa agak overwhelmed, dan sadar kalau aku butuh suasana yang lebih hening.

Bukan karena ada masalah besar. Bukan karena marah sama siapa-siapa. Dan jelas bukan karena mau mutus silaturahmi.

Aku cuma butuh waktu buat menjernihkan pikiran, berdoa, dan memilih hal apa yang bener-bener layak dapat perhatianku—satu per satu.

Rehat dulu dari Instagram

Jadi ya, aku memutuskan buat deaktif Instagram lagi untuk sementara waktu.

Aku pengen lebih banyak menghabiskan waktu di dunia nyata:

  • Nulis dan bikin catatan pribadi
  • Jalan-jalan terus dituangin jadi tulisan di blog
  • Belajar hal baru dan olahraga
  • Lebih sering keluar rumah menikmati udara segar
  • Intinya, ngelakuin hal-hal yang nggak butuh refresh feed tiap lima menit sekali.

Nggak tahu bakal berapa lama. Bisa sebentar, bisa juga lebih lama dari perkiraan. Momen ini mungkin bakal jadi story terakhirku di tahun 2026.

Lihat nanti aja ya. Siapa tahu tahun depan aku balik lagi membawa kejutan baru—atau minimal jadi versi diri yang lebih tenang.

Memenjarakan HP sendiri

Biar niatnya nggak cuma sekadar wacana, baru-baru ini aku beli loker fisik kecil.

Rencananya jelas: HP, tablet, dan gawai lainnya bakal dimasukkan ke ‘penjara’ loker itu.

Aturannya sederhana: di luar jam kerja, HP wajib dikunci.

Aku cuma bakal pakaikan gawai di pagi hari dan selama jam kantor aja. Begitu jam kerja selesai, HP masuk loker sampai keesokan harinya.

Nggak ada lagi cerita scrolling iseng sebelum tidur, nggak ada lagi buka-buka aplikasi nggak penting, dan nggak ada lagi kalimat jebakan: “ah buka Instagram 5 menit doang deh.” Ujung-ujungnya kan kita tahu sendiri bablasnya gimana hahaha.

Aku pengen merebut kembali malam-malamku. Daripada ngabisin waktu ngelihatin hidup orang lain di layar, mending aku nikmatin dan jalanin hidupku sendiri di dunia nyata.

Tapi tenang, laptop tetap ada di luar kok. Nggak sekalian kembali ke zaman purba juga. Laptop tetap dipake buat nulis, belajar coding, ngebuka blog, dan hal-hal produktif lainnya.

Ini bukan soal anti-teknologi kok. Tapi soal kita yang megang kendali kapan teknologi boleh mengambil perhatian kita.

Tetap nggak mau kuper

Sebelum ada yang ngira aku mau jadi bertapa di goa: tenang, aku nggak berniat hidup mengisolasi diri kok.

Aku tetap pengen tahu perkembangan dunia luar. Cuma bedanya, aku nggak mau seluruh keriuhan dunia itu masuk dan memenuhi kepalaku 24 jam sehari.

Aku udah set sistem AI pribadi yang bakal ngasih rangkuman mingguan tentang berita-berita penting. Jadi hal yang esensial tetap bakal ketahuan, tanpa harus ikutan pusing sama drama-drama sosmed yang nggak penting.

Kabar penting? Pasti tahu. Drama sosmed yang nggak jelas? Skip dulu. Doom-scrolling jam 2 pagi? Jangan sampai.

Aku juga masih aktif di WhatsApp, Bluesky, dan Discord. Jadi bukan berarti aku menghilang ditelan bumi ya.

Kalau mau sapa, tetep bisa kok!

Tolong jangan merasa canggung atau menganggap kita jadi kayak orang asing ya.

Kalau ada perlu, mau curhat, butuh bantuan, mau berbagi cerita lucu, atau sekadar nanya kabar, tinggal chat aja di WhatsApp.

Mungkin balasanku nggak sesatset biasanya, tapi pasti bakal kubalas kok.

Dan ya, aku juga masih buka draf proyek freelance coding. Kalau yang satu itu mah rezeki, jangan ditolak hahaha.

Empat bulan menuju akhir tahun

Aku nggak mau ngabisin sisa empat bulan di tahun 2026 ini cuma buat berlari mengejar ketertinggalan di media sosial.

Aku mau pelan-pelan. Lebih banyak nulis, baca, jalan-jalan, belajar, menggerakkan badan, berkreasi, dan tentu saja berdoa.

Nikmatin duduk tenang di suatu tempat tanpa perlu ada dorongan buat memfoto dan mengunggahnya ke story.

Ternyata dunia digital nggak perlu tahu semua hal yang kita lakuin. Dan sebaliknya, kita juga nggak perlu tahu semua keributan yang ada di internet.

Jadi kalau belakangan ini aku kelihatan agak tenang dan jarang muncul, jangan khawatir ya. Aku baik-baik saja—cuma lagi menikmati hidup di ruang yang lebih teduh.

Sampai ketemu lagi. Jangan lupa sesekali jalan keluar dan hirup udara segar.

Sampai jumpa.

Komentar