
Film
The Martian
Ridley Scott
Review pribadi film The Martian (2015). Petualangan Mark Watney bertahan hidup di Mars lewat ilmu botani, perhitungan kentang & jatah makanan yang bikin mikir, soundtrack lagu disko, dan ketangguhan manusia.
“Gak ada kepanikan berlebihan. Cuma seorang ahli botani yang memutuskan untuk 'science the s*** out of this' demi bertahan hidup di planet lain.”
Jujur gess, genre fiksi ilmiah eksplorasi luar angkasa tuh 100% selalu punya soft spot tersendiri di hatiku. Apa pun film yang membawa aku keluar dari permukaan Bumi dan menempatkanku di lanskap planet lain? Pasti langsung masuk daftar wajib tonton. Dan The Martian garapan sutradara Ridley Scott ini—yang diadaptasi dari novel karya Andy Weir—bener-bener dibikin buat ngena di titik favoritku!

Berbeda dari kebanyakan film fiksi ilmiah yang penuh bencana kosmik atau horor alien, The Martian justru tampil unik: cerdas, optimistis, penuh humor, dan fokus pada problem-solving ilmiah.
“I’m Gonna Have to Science the S*** Out of This”
Premis dasarnya dramatis banget: astronot sekaligus ahli botani Mark Watney (Matt Damon) ditinggalkan sendirian di Mars akibat badai debu hebat di Sol 18. Kru misi Ares III mengira Watney udah tewas, sementara bantuan dari Bumi baru bisa sampai minimal 4 tahun lagi.
Tapi alih-alih panik atau meratapi takdir, kata-kata ikonik dari Watney langsung memandu seluruh isi film: “I’m gonna have to science the s** out of this.”*

Sebagai ahli botani, Watney memutuskan buat melakukan hal yang gak pernah dibayangkan siapapun sebelumnya: bercocok tanam di Mars.
Dia menyulap Hab (markas tinggal) jadi rumah kaca raksasa, mengolah tanah Mars, memanfaatkan pupuk alami dari kotoran manusia yang dikomposkan, dan mereaksikan bahan bakar roket hidrazin buat menghasilkan air. Ngeliat proses dia menanam dan merawat ladang kentangnya tuh bikin rasa kagumku meledak wkwkwk.


Jujur, seumur-umur aku gak pernah sepeduli ini sama tumbuh kembang kentang, dan ikut penasaran cuyyy, aseli. wkwk!
Kebun Kentang Meledak
Salah satu detail kecil yang paling nyantol di kepalaku adalah saat Watney mulai memperhitungkan penjatahan makanan harian secara ketat, hal ini karena kebunnya mulai meledak karena kebocoran oksigen.

Tiap kali makan, dia menghitung kalori di kepala: berapa banyak kentang yang tersisa, harus bertahan berapa ratus Sol, dan kapan jatah makan harus dipotong setengah. Bahkan ada momen kocak saat saus bumbunya habis dan dia terpaksa nyelupin potongan kentang rebus ke bubukan obat penenang (Vicodin) wkwkwk.
Detail sepele ini bikin situasi bertahan hidupnya kerasa super nyata dan manusiawi. Pas nonton adegan ini, aku bahkan sempat berhenti ngemil di depan laptop sambil mikir: “Bung, kita di Bumi sering banget nyisa-nyisain makanan, padahal di sana tiap kalori diperjuangkan.”
Music in Mars ? OFC WKWK
Di tengah kesendirian di planet merah yang hening, hiburan satu-satunya yang dimiliki Watney cuma koleksi lagu-lagu disko era 70-an milik Komandan Lewis (Abba, Donna Summer, The Trammps).
input youtube: https://www.youtube.com/watch?v=5MfBtSh3Mao

Kombinasi lagu disko yang ceria dengan pemandangan gurun Mars merah yang membentang luas di kawasan Wadi Rum tuh menciptakan kontras yang estetik banget.
Kesimpulan
The Martian adalah perayaan atas kecerdasan, daya juang, dan humor manusia di hadapan situasi yang seolah mustahil. Ini bukan cuma soal bertahan hidup di luar angkasa, tapi pengingat kalau masalah seberat apa pun bisa diurai satu per satu jika kita mau berpikir tenang dan mulai melangkah.
Rating: 4 / 5 (8.5/10 Film sci-fi yang sangat solid dan menyenangkan buat ditonton ulang!).
Komentar
Memuat komentar…
Bergabung dalam percakapan
Pilih cara Anda ingin berkomentar.
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berbagi pendapat.